Kamis, 03 November 2011

KONFLIK SOSIAL

A.    Pengertian Konflik
        Istilah konflik berasal dari kata configere artinya saling memukul. Secara sosiologis, konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
         Menurut Soejono Soekanto, Konflik sebagai pertentangan atau pertikaian yaitu suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Sedangkan menurut Gillin and Gillin, Konflik sebagai proses interaksi sosial manusia saling berlawanan , artinnya bagian dari proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaan fisik, emosi,kebudayaan, dan perilaku
     Konflik merupakan proses atau keadaan ketika dua pihak atau lebih berusaha menggagalkan tujuan pihak lain karena terdapat perbedaan pendapat, nilai-nilai maupun tuntutan masing-masing pihak yang berselisih malalui ancaman maupun kekerasan.  Tidak semua konflik berpengaruh negatif, tetapi konflik yang terkendali atau konflik yang dapat dikelola dengan baik akan berpengaruh positif, misalnya kenginan berkonsiliasi setalah lam konflik. Disamping itu, konflik juga dapat memicu terjadinya dinamika hidup untuk mempertahankan eksistensi.
        Menurut tingkatannya, konflik dibedakan menjadi dua, yaitu konflik idiologi dan konflik politik.
1)     konflik Idiologi, yaitu konflik yang terwujud dalam bentuk pertentetangan   
        antarpaham atau idiologi
1)         konflik politik, yaitu konflik yang terwujud dalam bentuk pertentangan antar kelompok dalam hal pembagian kekuasaan politik, penggunaan kekuasaan, hak-hak dan sumber ekonomi.

B.     Proses Terjadinya Konflik
        Proses terjadinnya konflik Konflik lahir dari kenyataan sosial yaitu karena adanya Perbedaan-perbedaan misalnya, perbedaan ciri-ciri badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat. Perbedaan menjadi konflik manakala sistem sosial masyarakatnya tidak dapat mengakomodasikan perbedaan-perbedaan tersebut.       Hal itu mendorong masing-masing individu /kelompok untuk saling menghancurkan. Perbedaan itu antara lain:  Perbedaan antarindividu, Perbedaan kebudayaan, Perbedaan kepentingan dan Perubahan sosial.
Konflik dalam masyarakat majemuk ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut.
1)      Tindakan-tindakan anggota masyarakat sudah tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2)      Norma-norma masyarakat tidak berfungsi lagi dengan baik.
3)      Lemahnya sanksi sosial dan bahkan tidak dilaksanakan dengan konsekuen
4)      Tidak adanya kesamaan pandangan antaranggota masyarakat tentang tujuan yang akan dicapai.
5)      Adanya pertentangan terhadap norma masyarakat yang telah dihayati dan dujadikan pedoman hidup.
C.     Bentuk-bentuk Konflik
C.     Sebab-sebab Terjadinya Konflik
Penyebab terjadinya konflik antara lain :
1.      Adanya perbedaan kepribadian di antara anggota masyarakat, yang disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang kebudayaan.
2.      Adanya perbedaan pendirian atau perasaan antara individu yang satu dengan individu yang lain, sehingga terjadi konflik di antara mereka.
3.      Adanya perbedaan kepentingan individu atau kelompok di antara anggota masyarakat.
4.      Adanya perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat karena adanya perubahan nilai/sistem yang berlaku.

D.    Bentuk-bentuk Konflik
      Macam-macam bentuk konflik, menurut Soejono Soekanto antara lain:
1.      Konflik pribadi, yaitu konflik yang berlangsung antara dua orang.
2.      Konflik rasial, artinya konflik yang terjadi antara suku bangsa yang ada karena perbedaan ras.
3.      Konflik antarkelas sosial, artinya konflik yang antara kelas sosial yang ada dalam masyarakat.
4.      Konflik politik, yaitu konflik yang terjadi menyangkut golongan-golongan di masyarakat.
5.      Konflik Internasional, artinya konflik yang terjadi antarnegara yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan.

E.      Dampak Konflik
1.      Dampak Positif
a.      Konflik dapat memperjelas aspek- aspek kehidupan kehidupan yang belum jelas atau belum tuntas ditelaah.Contoh: diskusi dalam seminar;
b.      Konflik memungkinkan adanya penyesuaian  kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu;
c.       Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok;
d.      Konflik merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok;
e.        Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru;
f.        Konflik dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat.;
g.      Konflik memunculkan sebuah kompromi baru apabila konflik dalam keadaan seimbang.

2.      Dampak negatif konflik
a.      Keretakan hubungan antarindividu dan persatuan kelompok
b.      Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia
c.       Berubahnya kepribadian para individu
d.      Munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah

F.  Upaya Penyelesaian konflik.
      Konflik dapat diselesaikan melalui akomodasi, yang bertujuan untuk:
1.      Mengurangi pertentangan antara dua kelompok atau individu
2.      Mencegah terjadinya suatu pertentangan secara temporer
3.      Memungkinkan terjadinya kerjasama antara individu atau kelompok sosial
4.      Mengupayakan peleburan antara kelompok sosial yang berbeda. Contoh: amalgamasi

Bentuk-bentuk akomodasi :
1.      Koersi (coercion)
Koersi merupakan upaya penyelesaian sengketa melalui kekerasan. Biasanya dilakukan oleh pihak yang kuat terhadap yang lemah.
2.      Kompromi (compromise)
Kompromi terjadi jika kedua belah pihak yang bertikai saling mengurangi tuntutan masing-masing.
3.      Arbitrasi (arbitration)
Arbitrasi adalah suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang memberikan keputusan dan diterima serta ditaati oleh kedua pihak.
4.      Mediasi (mediation)
Mediasi adalah penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan yang mengikat.
5.      Konsiliasi (conciliation)
Konsiliasi adalah usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang berselisih bagi tercapainya suatu persetujuan bersama.
6.      Toleransi (tolerance)
Toleransi merupakan bentuk akomodasi dengan menyadari adanya perbedaan dalam masyarakat dan bersikap tenggang rasa terhadap perbedaan itu.
7.      Stalemate
Stalemete yaitu suatu keadaan di mana pihak-pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang, namun berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya karena kedua belah pihak sudah tidak mungkin lagi maju atau mundur.
8.      Ajudikasi (adjudication)
Adjudikasi merupakan penyelesaian konflik atau sengketa melalui pengadilan.
9.      Gencatan Senjata
Gencatan senjata merupakan penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu, guna melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu.

Ada beberapa cara lain yang sering digunakan dalam mengatasi konflik yaitu dengan cara yang produktif dan cara yang tidak produktif.
1.      Beberapa cara yang produktif, antara lain :
a.      Withdrawal, yaitu dengan menunggu sambil berusaha memahami situasi setelah kira-kira mampu dan yakin dapat berhasil baru melangkah untuk mengatasinya.
b.      Asertif, yaitu berusaha mengatasi secara tegas dan dengan cara yang baik, serta berusaha membina hubungan yang baik dengan pihak lain.
c.       Adjusting, yaitu berusaha menyesuaikan diri dengan pihak lain. Individu menyetujui syarat-syarat yang diminta oleh pihak yang terlibat konflik dengannya sampai batas tertentu.

2.      Sedangkan cara yang tidak produktif adalah sebagai berikut.
a.  Avoidance (menolak adanya konflik), cara ini termasuk cara yang paling sering dilakukan, bentuknya dapat berupa lari secara fisik.
b.  Force (menggunakan kekuatan).. Penyelesaian konflik dengan cara ini biasanya menggunakan kekuatan fisik, ancaman, teror, dan paksaan.
c.   Mengabaikan adanya konflik.
b.      Blame (menyalahkan orang lain). Hanya karena emosi sehingga gampang menyalahkan orang lain.
c.       Silencers (bersikap supaya orang lain diam). Cara ini biasanya digunakan menangis di hadapan lawan atau menggunakan kata sarkasme yang menyinggung masalah ribadi sehingga pihak lawan kemudian diam karena merasa malu dan tidak mau meladeni konflik.

      Selain dengan cara di atas, ada yang menganggap bahwa konflik dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut.
1.      Win-win solution
      Cara ini dilakukan oleh setiap pihak dengan mengambil sikap ingin menang. Kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah biasanya dilakukan dengan kekerasan yang berakhir dengan kehancuran, walaupun tetap ada pihak yang merasa menang.
      Contoh konflik antara Irak dan Amerika.
2.      Win-lose solution
      Cara ini dilakukan oleh pihak yang terlibat konflik dengan mengambil sikap salah satu pihak mengalah dengan pertimbangan untuk menjaga ketenteraman dan menjaga kelangsungan hubungan yang baik.

3.      Lose-lose solution
Cara ini dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik dengan mengambil sikap keduanya sama-sama pada posisi mengalah, tidak ada yang merasa menang dan tidak ada yang merasa kalah.


      Jika konflik-konflik sosial yang tidak terkendali oleh masyarakat atau mengabaikan sama sekali norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat sehingga berwujud tindakan merusak (destruktif) akan mengakibatkan terjadinya kekerasan.
     
         Syarat agar konflik tidak menjadi kekerasan yaitu:
1.      Masing-masing kelompok harus menyadari adanya situasi konflik di antara mereka dan perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadilan secara jujur.
2.      Pengendalian konflik dilakukan jika kekuatan sosial yang saling bertentangan itu terorganisir dengan jelas
3.      Setiap kelompok yang berkonflik harus mematuhi aturan-aturan permainan tertentu

DIFERENSIASI SOSIAL

Diferensiasi Sosial

1.    Pengertian Diferensiasi Sosial
     Masyarakat dibentuk oleh sekumpulan individu yang masing-masing mempunyai potensi atau kemampuan yang berbeda-beda. Keanekaragaman individu yang saling berinteraksi ini disebut dengan ”perbedaan sosial”. Diferensiasi sosial adalah proses penempatan orang-orang dalam berbagai kategori sosial yang berbeda, yang didasarkan pada perbedaan-perbedaan yang diciptakan secara sosial. Menurut Soerjojo Soekanto, diferensiasi sosial adalah variasi pekerjaan, prestise, dan kekuasaan kelompok dalam masyarakat, yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat umum dari proses interaksi  sosial yang lain.

     Diferensiasi sosial terjadi akibat pola interaksi individu yang memiliki ciri-ciri fisik dan non fisik berbeda-beda, meliputi:
a.   Ciri fisik,  seperti bentuk dan tinggi tubuh, raut muka, warna kulit, warna rambut dan lain-lain.
b.  Ciri Sosial, seperti organisasi-organisasi tertentu yang membatasi keanggotaan hanya pada tingkat-tingkat tertentu pula dalam masyarakat.
c. Ciri budaya, seperti adanya anggapan bahwa budaya dan gelar kesarjanaan luar negeri lebih baik daripada yang dalam negeri. Dalam lingkup yang lebih luas meliputi bentuk organisasi, kebiasaan dan sistem nilai budaya lainnya.

     Diferensiasi sosial merupakan karakteristik sosial yang membuat individu atau kelompok terpisah dan berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
a.    Usia
b.   Gender (jenis kelamin)
c.    Latar belakang etnik

2.    Faktor-faktor pembentuk ketidaksamaan Sosial
     Kalau kita amati, dalam kehidupan sehari-hari kita mengetahui adanya pembedaan antara kaum pria dan wanita (jenis kelamin), jenis pekerjaan, suku bangsa, ras dan agama. Hal itu menunjukkan adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang penggolongannya bukan atas dasar tinggi rendahnya penggolongan tersebut, tetapi lebih ditekankan pada klasifikasi masyarakat secara horisontal. Artinya tidak ada golongan yang lebih rendah atau lebih tinggi akibat dari penggolongan tersebut.

      Diferensiasi sosial masyarakat ditandai dengan adanya perbedaan faktor-faktor sebagai berikut.
a.   Perbedaan Ciri-ciri fisik
     Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri fisik tertentu yang mendasari lahirnya pembagian ras, seperti bentuk kepala, bentuk badan, warna kulit, warna rambut dan warna mata. Menurut Andre Ketzsus, berbagai ciri fisik dapat dikemukakan sebagai berikut.
1)   Bentuk kepala, dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)   Dolichepalis (kepala bertengkorak panjang)
b)   Meshochepolis (kepala bertongkorak sedang)
c)    Branehyshepalis (kepala bertengkorak pendek)
2)  Bentuk badan, yang menjadi dasar pembeda adalah bahwa manusia dewasa mempunyai ketinggian rata-rata 150-178 cm sehingga seseorang yang memiliki ketinggian lebih dari 178 cm dan kurang dari 150 cm masuk dalam golongan tersendiri.
3)   Bentuk hidung, meliputi.
      a)   Jepthorine (hidung sempit atau kecil)
      b)    Mesosorshine ( hidung sedang) dan
      c)    Platirhina (hidung lebar dan besar)
4)   Bentuk rambut yang dibagi menjadi tiga, yaitu.
            a)    Leiotris (rambut lurus) dimiliki orang tionghoa, dan eskimo (Mongoloid  
                    dan Kaokosoid).
b)  Cyimotris (rambut halus dan pirang), dimiliki oleh etnis dari ras Nordic, Alpine dan Medetranian.
   c)   Ulotris (rambut gimbal) dimiliki sebagian ras Negroid di benua Afrika
          dan Ras Malenesia
5)    Warna kulit, menurut F. J Blumenbach, dikelompokkan menjadi lima, yaitu sebagai berikut.
a)      Kulit putih, dimiliki ras Kaukososid
b)      kulit hitam, dimiliki oleh ras dari Negroid, malenesian, dan Polynesian
c)      Kulit sawo matang, dimiliki ras Malayan Mongoloid.
d)     kulit Kuning, dimiliki ras Asiatic Mongoloid dan Eskimo.
e)      kulit Merah, dimiliki ras orang-orang Indian dn penduduk asli benua Amerika.
6)    Warna Mata, meliputi warna hitam, biru dan coklat serta abu-abu.

b.   Perbedaan Ciri-ciri sosial
     Perbedaan ini berkaitan dengan status dan peranan warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ditentukan pula oleh perbedaan mata pencaharian, prestise dan kekuasaan. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan penghasilan sehingga menimbulkan kesan adanya tingkatan tinggi rendah walaupun sebenarnya tidak menunjukkan adanya kelas-kelas sosial tetapi terwujud dengan adanya perbedaan, seperti perbedaan antara petani, pedagang, karyawan, pegawai negeri, polisi dan TNI.

c.   Perbedaan Ciri-ciri Budaya
     Perbedaan pada faktor ini, berhubungan adanya perbedaan pandangan hidup suatu masyarakat yang menyangkut pelaksanaan nilai, norma, sistem religi, sistem kekerabatan. Bahasa yang dipakai, kesenian, etos kerja, tehnologi, sistem kemasyarakatan, juga pakain adat.

3.    Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial
      Berdasarkan bentuknya diferensiasi sosial dapat dibedakan sebagai berikut.
a.   Diferensiasi berdasarkan ras
      Ras adalah kategori individu yang secara turun temurun meiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu yang sama. Ras adalah pengertian biologis dan bukan pengertian sosio kultural. Artinya, apabila kita menyebut suatu kelompok ras, maka yang kita kemukakan adalah ciri-ciri fisik, bukan sifat mental atau sifat kebudayaan. Ilmu yang mempelajari ras-ras manusia dinamakan Somatologi.

     A.L. Kroeber membuat klasifikasi ras di dunia sebagai berikut.
1)   Austroloid : penduduk asli Australia (Aborigin)
2)   Mongoloid
o   Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah, Asia Timur)
o   Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filipina, penduduk asli Taiwan)
o   American Mongoloid (Penduduk asli Amerika)
3)    Caucasoid
o   Nordic (Eropa Utara, sekitar laut Baltik)
o   Alpine (Eropa Tengah dan Eropa Timur)
o   Mediteranian (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, Iran)
o   Indic (Pakistan, India, Bangladesh, Srilanka)
4)    Negroid
o   African Negroid (Benua Afrika)
o   Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya, yang dikenal sebagai orang Semang, Filipina)
o   Melanesian (Irian, Melanesia)
5)  Ras-ras Khusus (tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok)
o   Bushman (Gurun Kalahari – Afrika Selatan)
o   Veddoid (Pedalaman Srilanka dan Sulawesi Selatan)
o   Polynesian (Kepulauan Mikronesia dan Polynesia)
o   Ainu (di pulau Karafutu dan Hokaido – Jepang)

b.   Diferensiasi Sosial berdasarkan agama
       Suatu bentuk pengelompokkan masyarakat berdasarkan perbedaan agama yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan agama yang dipeluk oleh seseorang atau kelompok, maka manusia dapat dibedakan atas golongan-golongan agama. Misalnya kelompok masyarakat penganut agama Islam dinamakan golongan Islam. Begitu pula dengan golongan Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

c.   Diferensiasi Sosial berdasarkan Klan
       Suatu bentuk pengelompokkan masyarakat berdasarkan perbedaan diferensiasi sosial latar belakang kekerabatan seseorang yang terdiri atas satu nenek moyang yang dilihat melalui garis keturunan. Klen adalah suatu kelompok kekerabatan yang terdapat dalam masyarakat dengan menarik garis keturunan secara unilateral, yaitu melalui garis dari pihak ibu (matrilineal) saja, atau dari pihak bapak (patrilineal) saja.
      Dalam keterkaitan dengan perkawinan, klen bersifat eksogami, artiya anggota-anggota dari satu klen tidak boleh kawin-mengawini di dalam klen itu sendiri. Jadi, harus mencari jodoh ke klen lain.

d.   Diferensiasi sosial berdasarkan jenis kelamin
     Suatu bentuk pengelompokkan masyarakat dilhat berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang dimiliki seseorang. Jenis kelamin merupakan kategori sosial yang diperoleh manusia sejak lahir.
      Para Sosiolog berkeyakinan bahwa secara biologis pria tidak lebih tinggi daripada wanita dalam merebut kesempatan yang berhubungan dengan ekonomi, hak istimewa, dan prestise.

e.   Diferensiasi sosial berdasarkan profesi
     Suatu bentuk pengelompokkan masyarakat berdasarkan diferensiasi jenis profesi atau pekerjaan yang ditekuni oleh seseorang. Profesi akan terbentuk kalau berbagai kelompok hanya mengerjakan satu tugas tertentu Di masyarakat dapat dijumpai berbagai macam profesi seperti petani, nelayan, peternak, tukang, dokter dan sebagainya.

f.   Diferensiasi sosial berdasarkan suku bangsa
     Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial yang lain karena mempunyai ciri-ciri yang paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal usul, tempat asal, dan kebudayaan.
Ciri-ciri yang paling mendasar itu antara lain :
1)   Tipe fisik yang sama
2)   Bahasa daerah yang sama
3)   Adat istiadat yang sama, termasuk hukum adatnya
4)   Kesenian yang sama.

4.   Faktor-faktor penyebab diferensiasi sosial masyarakat Indonesia.
a.    Keadaan Geografis Wilayah Indonesia
      Fakta-fakta yang mendukung pernyataan di atas adalah sebagai beikut:
1)            Indonesia mempunyai 17.508 pulau besar dan kecil yang tersebar di seluruh wilayah teritorialnya; Masing-masing pulau dipisahkan oleh laut atau selat sepanjang ekuator dari 6 LU – 11 LS dan 95 BT – 141 BT. Keadaan tersebut menyebabkan nenek moyang bangsa Indonesia harus menetap di daerah yang terpisah-pisah satu sama lain sehingga tumbuh menjadi satu kesatuan yang masing-masing berbeda corak kehidupan dan kebudayaannya.
2)            Letak indonesia di antara dua benua dan dua samudra
          Faktor ini menyebabkan terciptanya kemajemukan agama. Seperti masuknya pengaruh agama Hindu dan Budha yang pertama kali masuk, disusul agama Islam di abad 13, agama katolik pada abad 16 yang dibawa oleh orang-orang Portugis dan kemudian agama Kristen protestan yang dibawa orang-orang Belanda.
3)            Perbedaan iklim dan kesuburan tanah
         Faktor ini menciptakan diferensiasi regional dalam bentuk perbedaan mata pencaharian penduduk, perbedaan tehnologi, perbedaan peralatan hidup dan sistem sosial.